Selasa, 10 Januari 2017

LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM THYPOID

A.     KONSEP DASAR
1.      Pengertian
Typhiod adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi Sallmonela Typhi yang masuk melalui makanan dan minuman yang telah terinfeksi (Bruner dan Sudart, 1994).
Typhoid adalah salah satu penyakit infeksi akut usus halus yang menyerang saluran pencernaan oleh kuman Sallmonela Typhi.
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
2.      Etiologi
Etiologi thypi adalah salmonella thypi, salmonella parathypi A,B,C ada dua sumber penularan salmonella thypi yaitu pasien dengan thypoid dan pasien dengan carier. Carier  adalah orang yang sembuh dari demam thypoid dan masih terus mengekresi salmonella thypi dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.  (Ngastiyah,  2005 ).
Kuman ini banyak terdapat di kotoran, tinja manusia, dan makanan atau minuman yang terkena kuman yang dibawa oleh lalat. Sebenarnya sumber utama dari penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis.
3.      Patofisiologi
Masuknya kuman salmonella typhi (S. typhi) dan salmonella paratyphi (S. Paratyphi) kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian yang lain lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon amunitas hormonal (16. A) usus kurang baik, maka kuman menembus sel-sel epital (terutama sel – M) dan selanjutnya lulamina propia kuman berkembang biak dan di fogosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh fakrofog.
Kuman dapat hidup dan berkembangbiak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plague. Piyenikum dislat dan kemudian kelenjar getah bening mesentrika. Selanjutnya melalui duktus terasikus kuman yang terdapat makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah dan menyebar keseluruh organ retikulo endotetial tubuh terutama hati dan limpa.
Diagnosa ini kuman meninggalkan sel-sel fogosit dan kemudian berkembang biak di luar sell fagosit dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi menyebabkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala  penyakit infeksi sisremir di dalam usus, sebagian kuman dikeluarkan melalui rases dan sewbagian masuk lagi keda lam serkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali berhubungan makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat-saat fagosifosis kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi dan selanjutnya akan menimbulkan inflamasi sisteler seperti deman, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, motabilias vaskuler, gangguan muntah dan mual.
4.      Tanda dan Gejala
Masa tunas 7-14 hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal ( gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas )
o   Perasaan tidak enak badan
o   Nyeri kepala
o   Pusing
o   Diare
o   Anoreksia
o   Batuk
o   Nyeri otot
o   Muncul gejala klinis yang lain
Demam berlangsung 3 minggu. Minggu pertama: demam ritmen, biasanya menurun pagi hari, dan meningkat  pada sore dan malam hari. Minggu kedua : demam terus. Minggu ketiga     : demam mulai turun secara berangsur-angsur, gangguan pada saluran pencernaan, lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor, hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan, gangguan pada kesadaran, kesadaran yaitu apatis-samnolen. Gejala lain ”RESEOLA” ( bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit ) ( Kapita selekta, kedokteran, jilid 2 ).
5.      Komplikasi
Komplikasi dapat dibagi dalam (Patriani Sarasan, 2008) :
a.      Komplikasi intestinal
1)      Perdarahan usus
2)      Perforasi usus
3)      Ileus paralitik


b.      Komplikasi ekstra intestinal
1)      Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.
2)      Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik
3)      Paru : pneumoniaempiemapleuritis.
4)      Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis.
5)      Ginjal : glomerulonefritispielonefritis, dan perinefritis.
6)      Tulang : oeteomielitisperiostitisepondilitis, dan arthritis.
7)      Neuropsikiatrik : delirium, meningiemusmeningitiepolineuritie, perifer, sindrom Guillan-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.
8)      Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan pasien kurang sempurna.
6.      Penatalaksanaan Medis
a.      Perawatan
Penderita typhoid perlu dirawat dirumah sakit untuk isolasi (agar penyakit ini tidak menular ke orang lain). Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas. Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang dikonsumsi adalah makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus dihindari, jadi harus benar-benar dijaga makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus menjalani upaya penyembuhan.
b.      Diet
o   Diet yang sesuai, cukup kalori, dan tinggi protein
o   Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring
o   Setelah bekas demam di beri bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim
o   dilanjutkan nasi, biasanya setelah penderita bebas dari demam selam 7 hari
c.       Obat- obatan
o   Chloramphenicol dengan dosis 3-4 x 500 mg/hari; pada anak dosisnya adalah 50-100 mg/kg berat badan/hari.
o   Tiamfenikol, dosis dewasa 3 x 500 mg/hari, dosis anak: 30-50 mg/kg berat badan/hari.
o    Ampisilin, dosis dewasa 4 x 500 mg, dosis anak 4 x 500-100 mg/kg berat badan/hari.
o   Kotrimoksasol (sulfametoksasol 400 mg + trimetoprim 80 mg) diberikan dengan dosis 2 x 2 tablet/hari.     (Soedarto, 2007)
d.      Pencegahan         
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam thypoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya sebelum makan mempersiapkan makanan hindari minum susu mentah  (yang belum di pleurisasi) hindari minum air mentah ,rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas.

B.      KONSEP KEPERAWATAN 
1.      Pengkajian Keperawatan
Selama demam Thypoid perawat memonitor perubuhan suhu tubuh pasien melalui tindakan langsung seperti mengukur suhu tubuh pasien dengan termometer, observasi pasien dari wajah sampai kaki, apa terdapat kemerahan kulit akibat peningkatan suhu tubuh .
Palpasi daerah abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada abdomen, palpasi denyut nadi pasien, auskultasi bising usus serta kaji pola makan dan perubahan nutrisi pasien.
2.      Penetapan Diagnosa Keperawatan
a.      Hipertermi berhubungan dengan infeksi Sallmonela Typhi
b.      ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan hipertermi dan muntah
c.    gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
3.      Penetapan Rencana Tindakan Keperawatan
a.      Dx : Hipertermi berhubungan dengan infeksi Sallmonela Typhi
Tujuan : Hipertermi teratasi
Kriteria Hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada komplikasi
Intervensi
Rasional
o  Observasi suhu tubuh klien

o  Anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien
o  Beri kompres dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas
o  Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun

o  Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.
o   Mengetahui keadaan umum klien
o   Membantu klien untuk dapat beristirahat secara maximal
o   Dengan mengkompres dapat menurunkan suhu tubuh

o   Untuk dapat memberikan keadaan lebih nyaman karena pakaian bahan katun dapat lebih cepat menyerap keringat
o   Membantu dalam proses pengobatan















b.      Dx : ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan hipertermi dan muntah
Tujuan : Ketidakseimbangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria Hasil : Mukosa bibir lembab, TTV dalam batas normal, tak ada          dehidrasi
Intervensi :
Intervensi
Rasonalisasi
o   Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan peningkatan suhu tubuh,
o   Pantau intake dan output cairan dalam 24 jam
o   Catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan distorsi lambung
o   Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari
o   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi
o   Untuk mengetahui tanda- tanda dehidrasi dan tindakan selanjutnya

o   Mengetahui asupan caiaran dan elektrolit
o   Membantu dalam mengidentifikasi adanya kekurangan cairan
o   Untuk memenuhi intake cairan yang hilang
o   Untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang akan mempengaruhi kesehatan tubuh


c.       Dx : gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan : Resiko Nutrisi kurang dari tubuh tidak terjadi
Kriteria Hasil : Nafsu makan bertambah, bising usus normal, konjungtiva ananemis.
Intervensi      :

Intervensi
Rasionalisasi
o   Kaji pola nutrisi klien

o   Anjurkan tirah baring  pembatasan aktivitas selama fase akut
o   Anjurkan klien makan sedikit tapi sering
o   Catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi lambung,
o   Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet
o   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
o   Membantu dan menntukan dalam intervensi selanjutnya
o   Dapat mengontrolkan aktivitas yang diberikan.
o   Memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh
o   Membantu dalam mengidentifikasi adanya kekurangan cairan
o   Membantu dalam diit yang seimbang

o   Membantu dalam penyembuhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar